Selasa, 06 Januari 2015

KH. Muhammad Arif Liwa, ABDINYA ABADI SEPANJANG MASA, sahabat Prof. Dr. KH. Sahabuddin




Teks Oleh : Mulyadi (Kordinator Ke-Asy'ariahan dan Kemandaran RADIKAL Unasman)


“Kalau kamu ingin bahagia di dunia dan diakhirat jangan berhenti sekolah dan selalulah belajar nak” ujar Prof. Dr. Sukaji Sarbi, Wakil Rektor I Universitas Al-Asy’ariah Mandar (Unasman) menirukan perkataan KH. Muhammad Arif Liwa, saat bersua RADIKAL di ruang kerjanya, sabtu (8/11).
Prof. Dr. Sukaji Sarbi, merupakan akademisi yang banyak mendapat berkah dari petuah-petuah  KH. Muhammad Arif Lewa. Dia merupakan pejuang kemerdekaan, tokoh pendidik, ulama kharismatik, sekaligus sahabat dekat Prof. Dr. KH. Sahabuddin, yang  banyak berjasa terhadap pendirian kampus Universitas Al-Asy’ariah Mandar (Unasman).   
Sosok KH. Muhammad Arif Liwa dikenal sebagai tokoh pendidik.           Kiprahnya dikenal sebagai tokoh yang banyak berjasa dalam merintis STKIP DDI Polewali pada tahun 2004 yang kemudian berubah menjadi Universitas Al-Asyariah Mandar. Saat itu ia bersama Prof. Dr. KH. Sahabuddin mengabdikan dirinya dalam pengembangan pendidikan di Sulawesi Barat. Dirinya pernah menjadi dosen, saat Unasman masih bernama STIKIP DDI Polewali. 
 “kalau anda tidak kenal KH. Muhammad  Arif Liwa, berarti anda belum mengetahui sejarah Unasman sesungguhnya, karena beliau adalah sahabat dari Prof. Dr. KH. Sahabuddin, beliau adalah sosok yang arif dan bijaksana, dan mahasiswa Unasman wajib mengenali rekam jejak beliau” tegas Muhammad Syaeba,SS, ketua jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unasman, mengamini kiprah KH. Muhammad Arif Liwa di kampus pertama dan terbesar di Sulawesi Barat ini.

Dalam penelusuran RADIKAL, saat menelusuri rekam jejak KH. Muhammad Arif Liwa,  didapati sumber yang menyebutkan bahwa sang ulama kharismatik adalah pasukan pengibar bendera pertama di tanah mandar saat Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 agustus 1945.
“Almarhum merupakan salah seorang pejuang kemerdekaan dan sebagai pimpinan upacara pada kibar bendera merah putih pertama di  Mandar yakni tepatnya di Matakali, “ ujar Najda, anak pertama KH. Muhammad Arif Liwa, yang saat ini menjadi kepala sekolah SDN 065 Polewali. Waktu itu dia  diwawancarai RADIKAL di kediamannya di jalan mesjid Jami No. 24 Polewali, kamis (6/11).
Dalam sebuah catatan yang diserahkan kepada RADIKAL, bahwa pengakuan, penghargaan dan penganugerahan gelar kehormatan Veteran perjuangan kemerdekaan Indonesia di berikan kepada KH.Muhammad Arif Liwa tepat tanggal 30 Oktober 1981.
Tanda kehormatan tersebut berupa Satya Lencana Karya Sastra Tingkat III.No.3240/4/1983 tanggal 3 juli 1983 dari Presiden Republik Indonesia. Kemudian penghargaan luar biasa Bupati Polewali Mandar atas pengabdian dan jasa pembangunan dalam bidang agama Islam, tanggal 29 desember 2010. Dan masih banyak lagi penghargaan lain sebagai bukti pengakuan negara terhadap perjuangan KH. Muhammad Arif Liwa sebagai pejuang kemerdekaan yang banyak berjasa kepada bangsa dan negara.
Selain sebagai pejuang,  KH. Muhammad Arif Liwa pun di kenal sebagai salah seorang ulama besar yang kharismatik, murid dari almaghfur-lah KH. Muhammad Shaleh yang akrab ditanah mandar dengan sebutan “Anangguru saleh”, mursid Tarekat Qadiriah di Sulawesi Barat yang terkenal dengan ribuan jamaahnya.
Sebagai seorang ulama besar, seperti yang dituturkan Ibu Najda, bahwa  pesan-pesan dari ayahnya  masih dia pegang teguh sampai sekarang. Keikhlasan, kejujuran, tawadu, ridha atas apa yang telah di takdirkan dan bersyukur adalah sikap yang harus di miliki sebagai modal dasar untuk selalu menjaga hubungan yang harmonis, baik kepada Allah, maupun kepada sesama manusia.
Pesan sakral KH. Muhammad Arif Lewa kepada anak-anaknya tersebut, menjadi penanda bahwa ibadah sesungguhnya dalam kehidupan ini adalah ketersambungan antara ibadah ritual dengan hubungan sesama manusia. Sikap dan perilaku manusia merupakan sesuatu yang penting dan dilandasi keikhlasan dan ketulusan.
Ditambahkan Rusdi, salah satu murid KH. Muhammad Arif Liwa, salah satu pesan gurunya bahwa apa saja yang di berikan Allah kepada hamba-Nya, sesungguhnya di balik semua itu ada hikmah yang terkandung di baliknya, hanya manusia tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, orang yang faham tentang hal tersebut membuat hatinya senantiasa tenang dan berbaik sangka kepada Allah SWT.
               

MARAQDIA BARO-BARO (pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya)








Oleh : Marwah (Kordinator Litbang RADIKAL Unasman) 



Polewali mandar merupakan daerah yang kaya akan cerita kisah patriotik  pemimpin masa lalu.  Banyak peristiwa sakral pernah terjadi, yang kini sedikit-demi sedikit mulai dinapikan masyarakat yang dikenal dunia luar memiliki panorama alam yang indah, berikut sejumput kearifan lokal yang tak akan habis dikisahkan ke dalam lembaran-lembaran kertas.  

Di Kabupaten Polewali mandar, tepatnya di Kecamatan Luyo terdapat sebuah perkampungan  yang dikenal dengan panorama alamnya yang asri, dan tempat dimana para penggiat batu permata mencari bongkahan batu untuk ditempa  menjadi permata yang indah.  Perkampungan itu adalah Desa Tenggelang. Desa ini tidak hanya dikenal dengan panorama dan batu permatanya. Disana pula, terdapat sekeping kisah Mara’dia Baro-baro.  Cerita turun temurun yang dapat menjadi bahan referensi bagi para penggali cerita-cerita jaman purbakala.  
Maraqdia Baro-Baro, adalah sebutan yang cukup sakral dan mistis, sehingga tak heran banyak hikmah yang terdapat dalam kisah nenek moyang warga Tenggelang ini. Yang diketahui, Maraqdia Baro-Baro adalah seorang raja gagah berani yang gencar melakukan perlawanan sengit saat digempur oleh kerajaan Passokorang.  Peristiwa itu terjadi sebelum abad ke 12.

Tak diketahui siapa nama asli dari Maraqdia Baro-Baro. Namun warga Tenggelang hanya menyebutnya dengan sebutan Maraqdia Baro-Baro. Dia adalah sosok pemimpin yang sangat di cintai rakyatnya dengan sifat dan karakter yang sangat diagungkan dan bijaksana, sehingga orang-orang pada saat itu mangangkat dia menjadi Maraqdia. 

Menurut Haeruddin, yang memiliki garis keturunan dengan Maraqdia Baro-baro,  konon sebelum diangkat menjadi pemimpin, dia memiliki kebiasaan menaiki puncak bukit. Perjalanan dari kaki bukit hingga ke puncak, dia lalui dengan menunggang kuda cempaga. Konon, ciri khasnya yang paling mencolok, dia suka memakai sapu tangan dan pengikat di kepalanya. Sesampainya di bukit, dia akan memandangi hamparan bukit, hingga ketika malam tiba sampai terbit fajar. 

Pengangkatannya menjadi Maraqdia sewaktu para petuah adat melakukan pertemuan. Maraqdia Baro-baro kemudian diangkat dan dikukuhkan dengan alasan memilki tutur kata yang lemah lembut,  bijaksana serta dikenal sangat suka menolong sesamanya. 
Selain sikap welas asih layaknya seorang pemimpin, Maraqdia Baro-baro juga memiliki postur tubuh yang ideal: tinggi, besar, berkulit putih, memiliki cambang, jenggot serta leher yang bergaris (ma’gere tallu barona). 

 Setelah dirinya di angkat untuk memimpin daerah Tenggelang, seluruh rakyat kala itu merasakan kehidupan yang damai dan sajehtara. Sehingga tak heran, beberapa kerajaan-kerajaan lain  iri terhadapnya. Oleh karena  itu banyak kerajaan-kerajaan yang ingin masuk ke wilayahnya untuk ditaklukkan. Tetapi kecintaan terhadap rakyat yang dipimpinnya, dia dengan sekuat tenaga  mempertahankan daerahnya dari gempuran kerajaan-kerajaan itu.

Salah satu kerajaan yang pernah menyerang Baro-baro adalah kerajaan Passokorang. Kerajaan ini adalah sebuah kerajaan besar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Tenggelang. Passokorang memiliki armada perang besar yang bertolak belakang dengan kerajaan Balanipa. 

“Pelajaran berharga yang bisa didapatkan dari sepenggal kisah Mara’dia Baro-baro yaitu bagaimana kecintaan seorang pemimpin terhadap rakyat yang dipimpinnya. Demi menghindari pertumpahan darah yang akan mengorbankan seluruh rakyatnya, maka Mara’dia Baro-baro Ma’linrung (berpindah tempat/alam),” ujar Nurdin salah satu warga Tenggelang, saat ditemui dikediamannya di Desa Tenggelang, (6/11).

Dari keterangan Nurdin, kisah Mara’dia Baro-baro yang memilih Ma’linrung untuk sementara waktu dalam rangka menghindari pertumpahan darah  justru terjadi untuk selama-lamanya. Diceritakan pula, sebelum musuh kerajaan Passokkorang datang menyerang wilayahnya, maka Mara’dia baro-baro menawarkan dua pilihan kepada pemangku adat.  “Apakah kita melawan mereka ataukah kita mallinrung (menghilang untuk sementara), karena tidak lama kerajaan-kerajaan itu akan memasuki wilayah kita dan mengajak berperang,”.  Ujar Nurdin menirukan perkataan Maraqdia Baro-baro seperti yang dia dengar dari cerita para orang tua di Tenggelang. 

Akhirnya, pemangku adat menyepakati agar Maraqdia Baro-baro bersama warga menghilang sementara waktu, sampai pasukan kerajaan Passokkorang kembali ke daerahnya. Karena target utama pasukan kerajaan Passokkorang adalah menaklukkan perlawanan Mara’dia Baro-baro yang memang kala itu b sangat sulit ditaklukkan. 

Salah satu tokoh pemuda Luyo, Hamsih Mariase, yang banyak mengakrabi kisah Mara’dia Baro-baro, juga menuturkan bahwa konon sebelum pasukan kerajaan lain memasuki wilayahnya, Mara’dia Baro-baro memilih menghilang untuk sementara bersama keluarganya dan rakyat yang dipimpinnya. Pilihan itu tiada lain karena rasa sayangnya yang tinggi agar tidak terjadi pertumpahan darah.  

“Mara’dia Baro-baro, tidak mau melihat ada warganya yang meninggal akibat peperangan, karena rasa sayang itu, beliau memerintahkan seorang perempuan yang sakti mandraguna. Dengan selendang kuning si perempuan, ia memenuhi permintaan Mara’dia Baro-baro agar dihilangkan sementara waktu bersama keluarga dan rakyatnya. Sewaktu perempuan sakti itu mengayunkan selendangnya maka lenyaplah Mara’dia Baro-baro bersama keluarga, warga, serta kuda cempaga yang biasa ditungganginya, ”ujar Hamsi Mariase,(13/11).
Ditambahkannya pula,  dengan kejadian itu lawan yang telah memasuki wilayah Tenggelang  heran karena tidak ada sama sekali penduduk yang terlihat. Kemudian peristiwa na’as terjadi, perempuan sakti itu terbunuh,. Sebelum terbunuh, perempuan tadi  belum  sempat mengayunkan selendang untuk kedua kalinya. Akhirnya,  Mara’dia Baro-baro bersama  keluarga, dan rakyat yang ikut bersamanya tak muncul  seperti sedia kala.

 Sampai sekarang pun  Mara’dia Baro-baro belum di ketahui ke mana rimbanya. Hingga detik ini pun, tempat dimana Mara’dia Baro-baro menghilang, warga  tenggelang hanya sering mendengar suara-suara ayam barkokok, serta suara hentakan kuda yang berjalan namun tak terlihat secara kasat mata. 

Dari keterangan warga di Kecamatan Luyo, seperti yang dituturkan Saddan Husain, warga Desa Mambu, Kecamatan Luyo, bahwa cerita turun temurun yang berkembang disana bahwa pernah ada salah satu warga di Desa Tenggelang menunaikan ibadah haji di tanah Mekkah, Arab Saudi. Disana dia berjumpa dengan sosok yang mengaku sebagai Maraqdia Baro-baro. Orang yang menunaikan ibadah haji tadi  diamanahi pesan khusus  untuk disampaikan kepada warga yang ada di  Tenggelang. “ apabila ada warga yang sangat memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji tetapi belum mampu karena persoalan materi, cukup datang mengunjungi tempat dimana Maraqdia Baro-baro menghilang. Atas izinTuhan,  hajatnya untuk menunaikan ibadah haji akan segera dimudahkan. Begitu kepercayaan orang-orang di Tenggelang,” ujar Saddan kepada RADIKAL.





CERITAKU DI RADIKAL





Oleh : Ahmady Haenur (Kordinator. Teknologi dan Informasi RADIKAL UNASMAN)

Tak seperti kemarin, dimulai malam sampai pagi, air dari langit urung menyirami bumi. Seakan langit merindukan bumi. Entah rahasia apa dibalik itu semua, mungkin saja Langit sedang menyapa bumi sebab ketika leher menengadah keatas awan putih biru itu, terlintas dibenak kita bahwa langit tetap dengan keceriaannya. Sedangkan bumi, pada saat pandangan mengarah kebawah, maka yang disaksikan, bagaikan manusia kehilangan harapan.

Antara langit dan bumi, jarak pisahnya yang begitu tak terhingga dikelopak mata, mengajarkan saya untuk saling menyapa satu sama lain sebagai mahkluk ciptaan-NYA. Sadarkah kita akan hal ini..? Mari direnungkan bersama-sama. Karena banyak makna dibalik ini semua tetapi boleh jadi tidak sempat terfikirkan.

Dinginnya suasana pagi hari ini sambil mengusap mataku setelah rasa ngantuk dan lelahku telah kulampiaskan pada malam itu juga, kulihat disekelilingku, diatas meja terdapat asbak berisi 7 puntung rokok, didinding tertempel kertas -kertas hasil coretan para jurnalis.

Kelipan-kelipan mataku tanda bahwa rasa ngantuk masih terasa, menoleh kesamping kiri dan kananku, kusadari ternyata hanya empat orang crew Radikal terlelap didinginnya pagi pada saat itu. Subhanallah... Kataku. terlintas difikiranku, luar biasa perjuangan Sahabat-sahabatku ini, lebih memilih berproses (belajar) dan tinggal di ruangan berdindingkan bambu, atap dari anyaman kampung tidak seperti bangunan megah beralaskan keramik. Mereka benar-benar memiliki kesungguhan dalam berjuang.

Tanpa melupakan sahabat-sahabatku, kami dari lima belas crew Radikal, yang lain sepertinya sibuk dengan amanah atau tanggung jawab masing-masing. Empat diantara kami siang malam tidak lepas mendiskusikan masalah kegiatan dan penerbitan. Akan tetapi, apapun itu, ketika kita disandingkan tanggung jawab, maka bagaimanapun dinamikanya, baik atau buruk, suka atau tidak suka, begitulah proses. Selain dapat membentuk karakter manusia, hasilnya pula bisa kita rasakan.

Saya pun bergegas mengambil air putih, paling tidak mengisi perut kosong, karena ruangan kecil itu tidak menyediakan makanan enak seperti diwarung-warung. Itupun kalau ingin makan enak, jalan satu-satunya adalah rumah karena rumah adalah Istanaku. Setelah itu, kulangkahkan kaki menuju mushollah kampus Universitas Al-Asy'ariah Mandar seraya ingin membasuh wajah lusuh yang sudah dua hari ini tidak mandi.

Habis itu, kuraba saku celanaku, kudapat ada uang receh, cukup untuk membeli sebungkus rokok tembakau. Harganya pun sangat murah dibanding dengan lainnya. Sesampainya di sekret, tadinya celanaku terlihat bersih, namun kotor terkena kotoran. Akhirnya, kugantikan pula dengan sarung kepunyaan  salah satu sahabatku (Amri) yang bergelantungan dibawah atap jerami itu.

Berhubung karena mereka berempat tak kunjung bangun, maka kugunakan kesempatan ini untuk jalan-jalan ke kantin sebelah sebelum pertempuran dimulai lagi. Alhamdulillaahh... Ibu kantin yang baik hati, memberiku segelas kopi hitam disertai pisang goreng. Sangat nikmat minuman berwarna hitam diselingi rokok tak berfilter. Suatu berkah titipan dari Maha Kuasa kala itu.

Seseduh kopi hitam, memberiku semangat untuk menuliskan beberapa kalimat ditiap paragraf pada tempat sederhana ini. Sembari melihat-lihat mahasiswa bergerayangan dipelataran kampus Universitas Al-Asy'ariah Mandar.

DEMMATANDE, PAHLAWAN GAGAH BERANI DARI BUMI KONDOSAPATA

Teks Oleh : Amri L Mallu (Kordinator Jaringan dan Konsolidasi Persma RADIKAL UNASMAN) Tepat pukul 17.30, senja mulai menampakkan wajahnya di ufuk barat. Saat itu, tanggal 10 november 2014 diperingati sebagai hari pahlawan. Hari dimana seluruh rakyat Indonesia mengenang jasa para pahlawan yang mempertahankan bumi Indonesia melawan agresi penjajah. Dan bertepatan di hari bersejarah itu, RADIKAL bertandang ke kediaman Sasyono (48) yang berdomisili di Lingkungan Kiri-kiri, Kelurahan Darma, Kecamatan Polewali. Kabupaten Polewali Mandar. Dengan penuh keramahan dia yang berprofesi sebagai PNS di kantor Dinas Kesehatan Pemerintahan Kabupaten Polewali Mandar ini, memberi sambutan hangat sembari menyuguhkan segelas kopi hitam di meja . Dengan suasana santai, proses wawancara pun dimulai. Saat ditanya tentang perjuangan Demmatande, pahlawan bumi Kondosapata Mamasa, spontan Sasyono menghela napas yang agak dalam. Ia kemudian menceritakan sejarah Demmatande sebagai tokoh pejuang pra-kemerdekaan tahun 1915 dari wilayah Palada, yang dengan gagah berani melawan agresi Belanda. “Demmatande adalah sosok pejuang tanpa pamrih yang berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan daerahnya menghadapi penjajah kolonial belanda, serta memiliki komitmen dan semangat juang yang tinggi yang tak pernah memikirkan dirinya sendiri,” tutur Sasyono yang juga masih menjadi kerabat dari Demmatande ini. Salah satu jejak yang ditinggalkan Demmatande adalah semangat perjuangannya yang kemudian menjadi falsafah hidup kekuatan rakyat Mamasa yang dikenal dengan semboyan “ mesa kada dipotuo, pantang kada dipomate”. “maksudnya mesa kada dipotuo pantang kada dipomate adalah semangat persatuan yang dibangun untuk melawan musuh, apabila tidak ada persatuan kita akan kalah, itulah prinsip yang dipakai sampai sekarang dan nilai-nilai inilah yang masih tertanam dan menjadi bagian dari kehidupan bagi masyarakat mamasa”tambah Sasyono. Diceritakan Sasyono, sebuah pusara (kuburan) yang terbuat dari kayu berbentuk kerbau dibuat Demmatande dan sengaja dipersiapkan sebelum berperang melawan belanda. Pusara tersebut dikenal dengan nama Liang Tedong-Tedong yang berhadapan langsung dengan benteng pertahanan Salu Banga yang terletak di wilayah Palada. Dalam proses perjuangannya, Demmatande mengalami hal tragis karena dia tertangkap dan ditawan oleh belanda. “Dia pun tak pernah kembali lagi. Dan tidak diketahui keberadaannya. Pusara yang telah dipersiapkan pun tak berfungsi sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya, yaitu sebagai tempat pemakamannya apabila ia tewas dalam peperangan,” ujar Sasyono menambahkan. Ditempat terpisah, Mandan (75) warga Kelurahan Darma, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar, yang juga masih memiliki garis keturunan dengan Demmatande, yang juga banyak mengetahui tentang sejarah perjuangannya, mengutarakan bahwa salah satu semangat dan nilai perjuangan dari Demmatande adalah Demmatande tidak menerima masuknya penjajah ke daerahnya karena penjajah membawa ajaran yang tidak sesuai dengan keyakinan masyarakat saat itu. “Kedatangan penjajah, ingin merubah struktur adat dan kebiasaan penduduk lokal yang masih meyakini dan mempercayai tradisi dari nenek moyangnya yang telah diwariskan secara turun temurun. Makanya dalam mempertahankan daerahnya dari penjajah Demmatande mempelopori pembuatan Benteng Salubanga sebagai bentuk perlawanan dan membuat para penjajah merasa resah dengan bentuk perlawanan seperti itu, ” ujar Mandan. Daeni, SPd (48), dosen di Universitas Al-Asyariah Mandar (Unasman) yang sangat termotivasi dengan sejarah perjuangan Demmatande, saat berdiskusi dengan RADIKAL di pelataran kampus Unasman, pun berpendapat demikian. Dia menegaskan bahwa sosok Demmatande adalah pejuang yang menjujung tinggi nilai persatuan dan penghargaannya yang tinggi terhadap tradisi nenek moyang. “Itulah alasan mengapa Demmatande dengan gigih berjuang melawan penjajah dan kata menyerah tidak akan pernah di ucapkannya, karena hadirnya para penjajah sudah diketahui membawa cara-cara yang tak manusiawi dan mau mengadu domba penduduk serta menghilangkan warisan kearifan lokal warisan nenek moyang” ujar Daeni SPd yang saat itu menjelaskan penuh dengan semangat.

JANGAN LUPAKAN PAHLAWAN DI HARI PAHLAWAN





Teks Oleh :
Muhammad Arif
(Ketua Umum Persma RADIKAL Unasman)

Kalau anda tidak kenal Ammana I Wewang To Pole di Balitung, berarti anda bukan pencatat sejarah kemerdekaan yang cermat di Tanah Mandar. Maraqdia Malolo (panglima) Kerajaan Balanipa yang dengan gagah berani melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. “Inilah sesungguhnya Ammana I Wewang,” teriak Ammana I Wewang saat ratusan butir pelor (peluru) berasap menubruk tubuhnya, namun tak sebutir pun yang berhasil merobohkan dia (M.T. Azis Syah, 1984). 
Sewaktu penjajah Belanda menggunakan akal bulusnya untuk menduduki Tanah Mandar dalam sebuah pertemuan dengan Arajang Balanipa. Kala itu, yang menjabat sebagai raja adalah To Kape yang merupakan Raja ke-48 Kerajaan Balanipa. Perundingan deadlock,   Raja To Kape kemudian merobek-robek naskah perjanjian dalam pertemuan itu, karena isinya lebih menguntungkan pihak Belanda. Sebagai pembesar Kerajaan Balanipa, Ammana I Wewang yang waktu itu mendampingi Raja To Kape,  tanpa berpikir panjang, langsung  bersikap layaknya seorang panglima perang.  
 “Tuan-tuan Belanda ini seperti tidak tahu aturan. Rupanya tuan-tuan ini kurang ajar di negeri kami. Tuan-tuan ini orang kulit putih tidak berhak mengatur kami. Negeri ini adalah negeri orang Mandar. Tuan-tuan adalah tamu kami untuk datang berdagang. Kalau mau berkuasa di Mandar ini, kami tidak terima. Lebih baik tuan-tuan cepat meninggalkan ruangan ini sebelum saya marah. Ayo, pulang cepat dan kalau tidak, saya  bunuh tuan-tuan di tempat ini,” teriak Ammana I Wewang sembari menghentakkan kakinya ke tanah  dan akhirnya perwakilan Belanda itu pun meninggalkan tempat pertemuan (M.T. Azis Syah, 1984: 47).    
Begitu pun adik kandungnya, Ammana I Pattolawali yang diangkat menjadi panglima perang di Kerajaan Alu (sekarang masuk dalam wilayah Desa Alu, Kecamatan Alu, Kabupaten Polewali Mandar).  Dia dengan gigih menghalau serangan serdadu Belanda. Pasukan yang dipimpinnya  berguguran dalam pertempuran sengit. Meski hanya dirinya yang tersisa,  dia tetap melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan. 
Ratusan butir peluru tak secuil pun bersarang di tubuhnya. Sebagai panglima, sejengkal pun pantang bagi  Ammana I Pattolawali untuk gentar apalagi mundur.  Na’as, nasib tragis menimpanya, dia tewas karena kaki dan tangannya dipatahkan serdadu Belanda.  Dengan cara itu perlawanannya bisa dilumpuhkan.
Cerita tentang kepahlawanan di Tanah Mandar juga tak akan lengkap apabila tidak menyebut nama Syekh KH. Muhammad Thahir atau yang lebih dikenal dengan gelar Tosalamaq Imam Lapeo. Perjuangannya tak secara langsung berhadapan (vis a vis) dengan penjajah Jepang dan Belanda. Namun dengan kekuatan strategi, taktik, karomah dan do’a mustajabnya sebagai seorang aulia. 
 Imam Lapeo merupakan guru spritual sekaligus  guru ilmu politik dan taktik bagi pejuang-pejuang di Sulawesi yang biasa mendatanginya dalam kurun waktu 1942-1950. To Salamaq Imam Lapeo mengajarkan prinsip “Hubbul Wathani minal iman (cinta tanah air adalah sebagaian dari iman)” yang merupakan senjata utama diajarkan kepada murid-muridnya (Thahir (1972) dalam Zuhriah, 2013: 47). 
Di era pemerintahan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) periode 1999-2000, rakyat Indonesia bahkan dunia internasional  mengenal pendekar hukum sekaliber Baharuddin Lopa, yang waktu itu menjabat sebagai jaksa agung. Tokoh dari bumi Mandar yang dikenal jujur dan sederhana,  mewarisi keberanian para pendahulunya seperti Ammana I Wewang, Ammana I Pattolawali, Andi Depu, Kolonel HS Mengga, Banru’, KH. Muhammad Thahir, KH. Muhammad Shaleh, Ahmad Kirang, KH. Sahabuddin, 40.000 jiwa pahlawan yang dibantai Westerling di  panyapuan Galung Lombok,  dan pahlawan-pahlawan yang tak bisa disebut satu persatu dalam tulisan singkat ini. Dengan darah Mandar yang mengalir di tubuhnya, dia berani membongkar kasus kejahatan koruptor kelas kakap di republik ini, meski nyawanya harus menjadi taruhan.  
     “Mandar i tau, iya di’o Mandar, andangi tia diang napaturu gengge ana’na, andang diang biyatta lamba mappagengge tau (kita ini Mandar, yang dikatakan Mandar: tidak ada yang mengajari anaknya berlaku culas, dan tak ada dalam keluarganya pergi membohongi orang),“ tegas Baharuddin Lopa,  yang waktu itu diwawancarai Surgawan Askari wartawan Radio Sawerigading FM Wonomulyo, diatas mobil menuju  kampung halamannya di Desa, Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. 
Ya, kita patut bersyukur, karena tanpa jasa pahlawan yang telah merampungkan keduniawiannya, yang kesetiannya kepada apa, bukan kepada siapa, seperti bahasa yang kerap diucapkan penyair besar Mandar: Husni Djamaluddin,  kita akan selamanya menjadi bangsa kuli, terlunta-lunta, tertindas dan teraniaya, karena tak pernah menikmati udara segar kemerdekaan. 
 Hari, jam, menit, bahkan detik ini, kita mesti selalu waspada dan mawas diri.  Penerus para penjajah sementara melancarkan modus dan strategi yang jauh berbeda dari pendahulunya. Namun tujuannya sama: akumulasi, eksplorasi, dan eksploitasi sumber daya alam dan kearifan lokal kita. Modusnya sangat rahasia, senyap, dan tak pernah kita duga. “mirip agen rahasia yang menyusup ke wilayah lawan,” kata KH. Ahmad Baso mengingatkan anak muda  Indonesia tentang bahaya liberalisme (faham kebebasan tanpa kontrol).    
Intelektual India, Vandana Shiva, pernah mengingatkan bangsa-bangsa yang berada di semenanjung Asia, terutama bangsa yang pernah mengalami sejarah kelam penjajahan panjang kolonialisme barat (termasuk India dan Indonesia), bahwa penjajahan kembali dilancarkan dengan gaya dan model baru. Yaitu: kolonialisasi baru (neo-kolonialisme). Apabila kolonialiasi jaman dulu hanya merampas tanah, mereka kembali ke bekas bangsa-bangsa jajahannya untuk merenggut dan merampas seluruh relung-relung kehidupan rakyat yang pernah dijajahnya (Ahmad Baso, 2013: 43).    
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita sebagai generasi penerus bangsa melanjutkan rintisan perjuangan para pahlawan kita? Kemudian senjata apa yang akan kita gunakan untuk melawan penjajahan model baru yang menggunakan senjata liberalisme nan halus serta senyap itu? Bahkan saking dekatnya, lebih dekat dari urat leher kita.  
Kata bijak bestari:  pertanyaan itu bisa terjawab dan jawabannya ada dalam lubuk jiwa hati kita masing-masing. Dimana terdapat ruang, tak satupun kebohongan terkatakan. Terdapat tangga melodi yang tak sebait pun nada kepalsuan terdendangkan. Dan tempat dimana kebenaran hakiki selalu terkumandangkan. Apabila kita menuruti kehendak-Nya, maka tak akan muncul generasi  yang kecopetan akal sehatnya, generasi yang melupakan jasa para pahlawannya, terutama di hari paling sakral dan bersejarah  tanggal 10 November, yang diperingati sebagai HARI PAHLAWAN.
Merdeka......!!!!