Selasa, 06 Januari 2015

Muhammad Darwis Hamzah KETUA UMUM PARPOL YANG MENOLAK NYALEG Santri, Budayawan, Politisi , Pembela Rakyat



Teks Oleh : Jamaluddin (Kordinator Kajian dan Pelatihan RADIKAL Unasman)



 Rumah panggung sederhana, berdinding kayu, terletak di Kappung Katapang Lingkungan Masigi Kelurahan Wattang Kecamatan Polewali, tepat disamping kanan mesjid Ustman Bin Affan.  Pada waktu pagi hingga malam hari, rumah tersebut akan selalu ramai  dikunjungi orang. 

Pengunjung yang berdatangan, mulai dari warga di sekitaran Wattang, hingga yang berdatangan dari luar Kecamatan Polewali.  Para pengunjung sangat riang gembira dan begitu antusias mendatangi rumah itu.  Betapa tidak, sang pemilik rumah sangat berbaur dengan warga sekitar, ataupun para pengunjung yang selalu datang berkunjung untuk sekedar bersilaturrahim.
Cerita  rumah panggung yang selalu ramai dikunjungi orang itu adalah cerita dari rumah yang ditinggali almarhum Muhammad Darwis Hamzah, di pertengahan tahun 70-an silam bersama istri dan buah hatinya. Saat itu dia adalah Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Polewali Mamasa. 

Hal  tersebut dituturkan  Sri Musdikawati, puteri dari Muhammad Darwis Hamzah, yang mendapati langsung situasi rumahnya, saat diminta berbagi cerita tentang sosok ayahnya  di kediamannya, di Jl. BTN Marwah, Pekkabata, kamis (30/10).
Dari cerita Sri Musdikawati,   ingatannya masih mengingat persis dengan kondisi dan situasi rumah saat ayahnya masih menjadi ketua PPP dulu. “Saya masih ingat, saat jelang pelaksanaan kampanye PPP, warga berbondong-bondong mendatangi rumah kami, dengan membawa hasil bumi seperti beras, pisang, minyak goreng, dan segala kebutuhan untuk kampanye atau kegiatan partai lainnya, padahal ayah sama sekali tak pernah memintanya, warga sendiri yang bergotong royong,” kenang dosen Universitas Al-Asyariah Mandar ini.
Tak jauh berbeda dengan cerita Sri Musdikawati, Azikin Noer juga sempat mendapati sosok Muhammad Darwis Hamzah, aktivis senior yang lama berkecimpung di dunia LSM ini bertutur bahwa sosok pemimpin sejati sangat susah didapati saat sekarang. “ beliau itu banyak berjasa kepada bangsa dan negara. Mencari sosok pemimpin yang seperti itu sangat susah, salah satu ciri khasnya adalah konsistensiya dalam  memperjuangkan kepentingan orang banyak, dan mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya,” ujar pria yang akrab disapa bang Kikin oleh rekan-rekannya sesama aktivis.  

                ” Puturi (almarhumah), istri dari pak Darwis Hamzah, yang saat itu berprofesi sebagai guru,  rela kehilangan pekerjaannya karena suaminya berseberangan dengan pemerintahan Presiden Soeharto. Karena partai PPP yang diketuai suaminya dianggap berseberangan dengan partai Golkar yang menjadi partai penguasa dibawah kendali Soeharto,” ujar Muslim, tetangga dekat rumah Muhammad Darwis Hamzah yang banyak mendapat cerita dari ayahnya almarhum mantri Sunar yang cukup bersahabat dengan santri, budayawan, politisi pembela rakyat ini. 

Muslim menambahkan, bahwa sosok Muhammad Darwis Hamzah adalah sosok politisi yang konsisten dan komitmen dengan kehendak yang ada dalam lubuk hatinya. Dalam beberapa tahun dia sama sekali tak pernah mencalonkan diri sebagai calon legislatif (caleg) atau jabatan lain di eksekutif hingga akhir hayatnya.  “Tidak ada ketua partai seperti pak Darwis Hamzah, selain dikenal intelektual juga dikenal pekerja keras. Dia disegani baik kawan maupun rival politiknya. Dia sangat pandai mengelola mesin partai secara mandiri,” tutur Muslim yang juga pegawai di kantor Kesbanglinmas Polman. 

                Dari penelusuran RADIKAL yang diramu dari berbagai sumber, diketahui bahwa Muhammad Darwis Hamzah dilahirkan  pada tanggal 12  desember 1939. Dia menjabat ketua Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 70-an.
Setelah terjadi “Fusi Partai”, yakni kebijakan pemerintahan Soeharto, yang merampingkan parpol kedalam tiga partai, yaitu partai berbasis Islam dilebur ke PPP, partai berhaluan nasionalis dilebur ke PDI, dan partai Golkar sebagai partai yang dibekingi penguasa orde baru. Dari situlah PSII dilebur kedalam PPP. Sehingga Muhammad Darwis Hamzah pun diserahi amanah menjadi ketua partai PPP di Polewali Mamasa kala itu.  

Selain menjadi politisi, dia juga pernah menjadi ketua Badan Pertimbangan Pendidikan (Bapendik) yang menggagas Musyawarah Pendidikan (Musdik) yang selanjutnya melahirkan beberapa sekolah, diantaranya: Sekolah Pendidikan Guru (SPG) sekarang menjadi SMK N 3 Polewali. Ada juga sekolah pembangunan pertanian  yang sekarang menjadi SMK Pertanian, serta SMP N 2 Polewali.
Muhammad Darwis Hamzah memang selalu dikerumuni orang banyak. Pribadinya   dikenal bersahaja, santun, diakrabi sebagai guru sekaligus santri  yang selalu memperjuangkan nilai-nilai islam  yang toleran dan damai. Bersahabat dengan sejumlah tokoh nasional sebut saja: Adi Sasono. Dia juga merupakan tokoh Mandar satu-satunya yang tulisannya dimuat di majalah PRISMA terbitan ibukota dan media nasional lainnya. Dia juga dikenal sangat bersahabat dengan almarhum Husni Djamaluddin, penyair nasional kelahiran Tinambung Polman.
Warga Desa Lemo, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, tak mampu melupakan jasa-jasa almarhum yang dikenal gigih dalam memperjuangkan penderitaan rakyat. Dengan niat tulus pembelaannya kepada rakyat, dia membebaskan tanah warga Desa Lemo agar tidak digusur. Waktu itu tahun 1967, tanah perkampungan warga Desa Lemo akan dijadikan  Home Base TNI.  TNI saat itu dikenal menjadi penopang kekuasaan rezim Soeharto. 

                Salah satu tokoh masyarakat Desa Lemo, H. Cammana’, dia menuturkan bahwa memori 1967 adalah masa yang tak bisa dilupakan warga Lemo. Waktu itu perkampungan di Lemo belum defenitif menjadi Desa. “tanah itu luasnya kurang lebih 80 hektar, Pak Darwis Hamzah bersama warga jumlahnya kalau tidak salah, 100 orang, berhasil mempertahankan tanah itu dari penggusuran untuk pembangunan home base TNI,” kenang H. Cammana, saat diwawancarai RADIKAL, Senin (4/12). 

Mustafa Jumari, warga Desa Lemo lainnya menuturkan, waktu itu warga bersatu mempertahankan tanah agar tidak diambil alih oleh tentara. “batas tanah yang kami pertahankan dulu bersama almarhum pak Darwis, mulai dari pinggiran sungai yang disebelah timur sampai di pinggiran sungai yang disebelah barat,” ujar Mustafa Jumari rekan seperjuangan Muhammad Darwis Hamzah. 



KH. Muhammad Arif Liwa, ABDINYA ABADI SEPANJANG MASA, sahabat Prof. Dr. KH. Sahabuddin




Teks Oleh : Mulyadi (Kordinator Ke-Asy'ariahan dan Kemandaran RADIKAL Unasman)


“Kalau kamu ingin bahagia di dunia dan diakhirat jangan berhenti sekolah dan selalulah belajar nak” ujar Prof. Dr. Sukaji Sarbi, Wakil Rektor I Universitas Al-Asy’ariah Mandar (Unasman) menirukan perkataan KH. Muhammad Arif Liwa, saat bersua RADIKAL di ruang kerjanya, sabtu (8/11).
Prof. Dr. Sukaji Sarbi, merupakan akademisi yang banyak mendapat berkah dari petuah-petuah  KH. Muhammad Arif Lewa. Dia merupakan pejuang kemerdekaan, tokoh pendidik, ulama kharismatik, sekaligus sahabat dekat Prof. Dr. KH. Sahabuddin, yang  banyak berjasa terhadap pendirian kampus Universitas Al-Asy’ariah Mandar (Unasman).   
Sosok KH. Muhammad Arif Liwa dikenal sebagai tokoh pendidik.           Kiprahnya dikenal sebagai tokoh yang banyak berjasa dalam merintis STKIP DDI Polewali pada tahun 2004 yang kemudian berubah menjadi Universitas Al-Asyariah Mandar. Saat itu ia bersama Prof. Dr. KH. Sahabuddin mengabdikan dirinya dalam pengembangan pendidikan di Sulawesi Barat. Dirinya pernah menjadi dosen, saat Unasman masih bernama STIKIP DDI Polewali. 
 “kalau anda tidak kenal KH. Muhammad  Arif Liwa, berarti anda belum mengetahui sejarah Unasman sesungguhnya, karena beliau adalah sahabat dari Prof. Dr. KH. Sahabuddin, beliau adalah sosok yang arif dan bijaksana, dan mahasiswa Unasman wajib mengenali rekam jejak beliau” tegas Muhammad Syaeba,SS, ketua jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unasman, mengamini kiprah KH. Muhammad Arif Liwa di kampus pertama dan terbesar di Sulawesi Barat ini.

Dalam penelusuran RADIKAL, saat menelusuri rekam jejak KH. Muhammad Arif Liwa,  didapati sumber yang menyebutkan bahwa sang ulama kharismatik adalah pasukan pengibar bendera pertama di tanah mandar saat Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 agustus 1945.
“Almarhum merupakan salah seorang pejuang kemerdekaan dan sebagai pimpinan upacara pada kibar bendera merah putih pertama di  Mandar yakni tepatnya di Matakali, “ ujar Najda, anak pertama KH. Muhammad Arif Liwa, yang saat ini menjadi kepala sekolah SDN 065 Polewali. Waktu itu dia  diwawancarai RADIKAL di kediamannya di jalan mesjid Jami No. 24 Polewali, kamis (6/11).
Dalam sebuah catatan yang diserahkan kepada RADIKAL, bahwa pengakuan, penghargaan dan penganugerahan gelar kehormatan Veteran perjuangan kemerdekaan Indonesia di berikan kepada KH.Muhammad Arif Liwa tepat tanggal 30 Oktober 1981.
Tanda kehormatan tersebut berupa Satya Lencana Karya Sastra Tingkat III.No.3240/4/1983 tanggal 3 juli 1983 dari Presiden Republik Indonesia. Kemudian penghargaan luar biasa Bupati Polewali Mandar atas pengabdian dan jasa pembangunan dalam bidang agama Islam, tanggal 29 desember 2010. Dan masih banyak lagi penghargaan lain sebagai bukti pengakuan negara terhadap perjuangan KH. Muhammad Arif Liwa sebagai pejuang kemerdekaan yang banyak berjasa kepada bangsa dan negara.
Selain sebagai pejuang,  KH. Muhammad Arif Liwa pun di kenal sebagai salah seorang ulama besar yang kharismatik, murid dari almaghfur-lah KH. Muhammad Shaleh yang akrab ditanah mandar dengan sebutan “Anangguru saleh”, mursid Tarekat Qadiriah di Sulawesi Barat yang terkenal dengan ribuan jamaahnya.
Sebagai seorang ulama besar, seperti yang dituturkan Ibu Najda, bahwa  pesan-pesan dari ayahnya  masih dia pegang teguh sampai sekarang. Keikhlasan, kejujuran, tawadu, ridha atas apa yang telah di takdirkan dan bersyukur adalah sikap yang harus di miliki sebagai modal dasar untuk selalu menjaga hubungan yang harmonis, baik kepada Allah, maupun kepada sesama manusia.
Pesan sakral KH. Muhammad Arif Lewa kepada anak-anaknya tersebut, menjadi penanda bahwa ibadah sesungguhnya dalam kehidupan ini adalah ketersambungan antara ibadah ritual dengan hubungan sesama manusia. Sikap dan perilaku manusia merupakan sesuatu yang penting dan dilandasi keikhlasan dan ketulusan.
Ditambahkan Rusdi, salah satu murid KH. Muhammad Arif Liwa, salah satu pesan gurunya bahwa apa saja yang di berikan Allah kepada hamba-Nya, sesungguhnya di balik semua itu ada hikmah yang terkandung di baliknya, hanya manusia tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, orang yang faham tentang hal tersebut membuat hatinya senantiasa tenang dan berbaik sangka kepada Allah SWT.
               

MARAQDIA BARO-BARO (pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya)








Oleh : Marwah (Kordinator Litbang RADIKAL Unasman) 



Polewali mandar merupakan daerah yang kaya akan cerita kisah patriotik  pemimpin masa lalu.  Banyak peristiwa sakral pernah terjadi, yang kini sedikit-demi sedikit mulai dinapikan masyarakat yang dikenal dunia luar memiliki panorama alam yang indah, berikut sejumput kearifan lokal yang tak akan habis dikisahkan ke dalam lembaran-lembaran kertas.  

Di Kabupaten Polewali mandar, tepatnya di Kecamatan Luyo terdapat sebuah perkampungan  yang dikenal dengan panorama alamnya yang asri, dan tempat dimana para penggiat batu permata mencari bongkahan batu untuk ditempa  menjadi permata yang indah.  Perkampungan itu adalah Desa Tenggelang. Desa ini tidak hanya dikenal dengan panorama dan batu permatanya. Disana pula, terdapat sekeping kisah Mara’dia Baro-baro.  Cerita turun temurun yang dapat menjadi bahan referensi bagi para penggali cerita-cerita jaman purbakala.  
Maraqdia Baro-Baro, adalah sebutan yang cukup sakral dan mistis, sehingga tak heran banyak hikmah yang terdapat dalam kisah nenek moyang warga Tenggelang ini. Yang diketahui, Maraqdia Baro-Baro adalah seorang raja gagah berani yang gencar melakukan perlawanan sengit saat digempur oleh kerajaan Passokorang.  Peristiwa itu terjadi sebelum abad ke 12.

Tak diketahui siapa nama asli dari Maraqdia Baro-Baro. Namun warga Tenggelang hanya menyebutnya dengan sebutan Maraqdia Baro-Baro. Dia adalah sosok pemimpin yang sangat di cintai rakyatnya dengan sifat dan karakter yang sangat diagungkan dan bijaksana, sehingga orang-orang pada saat itu mangangkat dia menjadi Maraqdia. 

Menurut Haeruddin, yang memiliki garis keturunan dengan Maraqdia Baro-baro,  konon sebelum diangkat menjadi pemimpin, dia memiliki kebiasaan menaiki puncak bukit. Perjalanan dari kaki bukit hingga ke puncak, dia lalui dengan menunggang kuda cempaga. Konon, ciri khasnya yang paling mencolok, dia suka memakai sapu tangan dan pengikat di kepalanya. Sesampainya di bukit, dia akan memandangi hamparan bukit, hingga ketika malam tiba sampai terbit fajar. 

Pengangkatannya menjadi Maraqdia sewaktu para petuah adat melakukan pertemuan. Maraqdia Baro-baro kemudian diangkat dan dikukuhkan dengan alasan memilki tutur kata yang lemah lembut,  bijaksana serta dikenal sangat suka menolong sesamanya. 
Selain sikap welas asih layaknya seorang pemimpin, Maraqdia Baro-baro juga memiliki postur tubuh yang ideal: tinggi, besar, berkulit putih, memiliki cambang, jenggot serta leher yang bergaris (ma’gere tallu barona). 

 Setelah dirinya di angkat untuk memimpin daerah Tenggelang, seluruh rakyat kala itu merasakan kehidupan yang damai dan sajehtara. Sehingga tak heran, beberapa kerajaan-kerajaan lain  iri terhadapnya. Oleh karena  itu banyak kerajaan-kerajaan yang ingin masuk ke wilayahnya untuk ditaklukkan. Tetapi kecintaan terhadap rakyat yang dipimpinnya, dia dengan sekuat tenaga  mempertahankan daerahnya dari gempuran kerajaan-kerajaan itu.

Salah satu kerajaan yang pernah menyerang Baro-baro adalah kerajaan Passokorang. Kerajaan ini adalah sebuah kerajaan besar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Tenggelang. Passokorang memiliki armada perang besar yang bertolak belakang dengan kerajaan Balanipa. 

“Pelajaran berharga yang bisa didapatkan dari sepenggal kisah Mara’dia Baro-baro yaitu bagaimana kecintaan seorang pemimpin terhadap rakyat yang dipimpinnya. Demi menghindari pertumpahan darah yang akan mengorbankan seluruh rakyatnya, maka Mara’dia Baro-baro Ma’linrung (berpindah tempat/alam),” ujar Nurdin salah satu warga Tenggelang, saat ditemui dikediamannya di Desa Tenggelang, (6/11).

Dari keterangan Nurdin, kisah Mara’dia Baro-baro yang memilih Ma’linrung untuk sementara waktu dalam rangka menghindari pertumpahan darah  justru terjadi untuk selama-lamanya. Diceritakan pula, sebelum musuh kerajaan Passokkorang datang menyerang wilayahnya, maka Mara’dia baro-baro menawarkan dua pilihan kepada pemangku adat.  “Apakah kita melawan mereka ataukah kita mallinrung (menghilang untuk sementara), karena tidak lama kerajaan-kerajaan itu akan memasuki wilayah kita dan mengajak berperang,”.  Ujar Nurdin menirukan perkataan Maraqdia Baro-baro seperti yang dia dengar dari cerita para orang tua di Tenggelang. 

Akhirnya, pemangku adat menyepakati agar Maraqdia Baro-baro bersama warga menghilang sementara waktu, sampai pasukan kerajaan Passokkorang kembali ke daerahnya. Karena target utama pasukan kerajaan Passokkorang adalah menaklukkan perlawanan Mara’dia Baro-baro yang memang kala itu b sangat sulit ditaklukkan. 

Salah satu tokoh pemuda Luyo, Hamsih Mariase, yang banyak mengakrabi kisah Mara’dia Baro-baro, juga menuturkan bahwa konon sebelum pasukan kerajaan lain memasuki wilayahnya, Mara’dia Baro-baro memilih menghilang untuk sementara bersama keluarganya dan rakyat yang dipimpinnya. Pilihan itu tiada lain karena rasa sayangnya yang tinggi agar tidak terjadi pertumpahan darah.  

“Mara’dia Baro-baro, tidak mau melihat ada warganya yang meninggal akibat peperangan, karena rasa sayang itu, beliau memerintahkan seorang perempuan yang sakti mandraguna. Dengan selendang kuning si perempuan, ia memenuhi permintaan Mara’dia Baro-baro agar dihilangkan sementara waktu bersama keluarga dan rakyatnya. Sewaktu perempuan sakti itu mengayunkan selendangnya maka lenyaplah Mara’dia Baro-baro bersama keluarga, warga, serta kuda cempaga yang biasa ditungganginya, ”ujar Hamsi Mariase,(13/11).
Ditambahkannya pula,  dengan kejadian itu lawan yang telah memasuki wilayah Tenggelang  heran karena tidak ada sama sekali penduduk yang terlihat. Kemudian peristiwa na’as terjadi, perempuan sakti itu terbunuh,. Sebelum terbunuh, perempuan tadi  belum  sempat mengayunkan selendang untuk kedua kalinya. Akhirnya,  Mara’dia Baro-baro bersama  keluarga, dan rakyat yang ikut bersamanya tak muncul  seperti sedia kala.

 Sampai sekarang pun  Mara’dia Baro-baro belum di ketahui ke mana rimbanya. Hingga detik ini pun, tempat dimana Mara’dia Baro-baro menghilang, warga  tenggelang hanya sering mendengar suara-suara ayam barkokok, serta suara hentakan kuda yang berjalan namun tak terlihat secara kasat mata. 

Dari keterangan warga di Kecamatan Luyo, seperti yang dituturkan Saddan Husain, warga Desa Mambu, Kecamatan Luyo, bahwa cerita turun temurun yang berkembang disana bahwa pernah ada salah satu warga di Desa Tenggelang menunaikan ibadah haji di tanah Mekkah, Arab Saudi. Disana dia berjumpa dengan sosok yang mengaku sebagai Maraqdia Baro-baro. Orang yang menunaikan ibadah haji tadi  diamanahi pesan khusus  untuk disampaikan kepada warga yang ada di  Tenggelang. “ apabila ada warga yang sangat memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji tetapi belum mampu karena persoalan materi, cukup datang mengunjungi tempat dimana Maraqdia Baro-baro menghilang. Atas izinTuhan,  hajatnya untuk menunaikan ibadah haji akan segera dimudahkan. Begitu kepercayaan orang-orang di Tenggelang,” ujar Saddan kepada RADIKAL.





CERITAKU DI RADIKAL





Oleh : Ahmady Haenur (Kordinator. Teknologi dan Informasi RADIKAL UNASMAN)

Tak seperti kemarin, dimulai malam sampai pagi, air dari langit urung menyirami bumi. Seakan langit merindukan bumi. Entah rahasia apa dibalik itu semua, mungkin saja Langit sedang menyapa bumi sebab ketika leher menengadah keatas awan putih biru itu, terlintas dibenak kita bahwa langit tetap dengan keceriaannya. Sedangkan bumi, pada saat pandangan mengarah kebawah, maka yang disaksikan, bagaikan manusia kehilangan harapan.

Antara langit dan bumi, jarak pisahnya yang begitu tak terhingga dikelopak mata, mengajarkan saya untuk saling menyapa satu sama lain sebagai mahkluk ciptaan-NYA. Sadarkah kita akan hal ini..? Mari direnungkan bersama-sama. Karena banyak makna dibalik ini semua tetapi boleh jadi tidak sempat terfikirkan.

Dinginnya suasana pagi hari ini sambil mengusap mataku setelah rasa ngantuk dan lelahku telah kulampiaskan pada malam itu juga, kulihat disekelilingku, diatas meja terdapat asbak berisi 7 puntung rokok, didinding tertempel kertas -kertas hasil coretan para jurnalis.

Kelipan-kelipan mataku tanda bahwa rasa ngantuk masih terasa, menoleh kesamping kiri dan kananku, kusadari ternyata hanya empat orang crew Radikal terlelap didinginnya pagi pada saat itu. Subhanallah... Kataku. terlintas difikiranku, luar biasa perjuangan Sahabat-sahabatku ini, lebih memilih berproses (belajar) dan tinggal di ruangan berdindingkan bambu, atap dari anyaman kampung tidak seperti bangunan megah beralaskan keramik. Mereka benar-benar memiliki kesungguhan dalam berjuang.

Tanpa melupakan sahabat-sahabatku, kami dari lima belas crew Radikal, yang lain sepertinya sibuk dengan amanah atau tanggung jawab masing-masing. Empat diantara kami siang malam tidak lepas mendiskusikan masalah kegiatan dan penerbitan. Akan tetapi, apapun itu, ketika kita disandingkan tanggung jawab, maka bagaimanapun dinamikanya, baik atau buruk, suka atau tidak suka, begitulah proses. Selain dapat membentuk karakter manusia, hasilnya pula bisa kita rasakan.

Saya pun bergegas mengambil air putih, paling tidak mengisi perut kosong, karena ruangan kecil itu tidak menyediakan makanan enak seperti diwarung-warung. Itupun kalau ingin makan enak, jalan satu-satunya adalah rumah karena rumah adalah Istanaku. Setelah itu, kulangkahkan kaki menuju mushollah kampus Universitas Al-Asy'ariah Mandar seraya ingin membasuh wajah lusuh yang sudah dua hari ini tidak mandi.

Habis itu, kuraba saku celanaku, kudapat ada uang receh, cukup untuk membeli sebungkus rokok tembakau. Harganya pun sangat murah dibanding dengan lainnya. Sesampainya di sekret, tadinya celanaku terlihat bersih, namun kotor terkena kotoran. Akhirnya, kugantikan pula dengan sarung kepunyaan  salah satu sahabatku (Amri) yang bergelantungan dibawah atap jerami itu.

Berhubung karena mereka berempat tak kunjung bangun, maka kugunakan kesempatan ini untuk jalan-jalan ke kantin sebelah sebelum pertempuran dimulai lagi. Alhamdulillaahh... Ibu kantin yang baik hati, memberiku segelas kopi hitam disertai pisang goreng. Sangat nikmat minuman berwarna hitam diselingi rokok tak berfilter. Suatu berkah titipan dari Maha Kuasa kala itu.

Seseduh kopi hitam, memberiku semangat untuk menuliskan beberapa kalimat ditiap paragraf pada tempat sederhana ini. Sembari melihat-lihat mahasiswa bergerayangan dipelataran kampus Universitas Al-Asy'ariah Mandar.